Pertambangan dan Kehutanan,
Dua Sektor Dengan Berbagai Kepentingan dan Permasalahannya

I. PENDAHULUAN
Sektor pertambangan dan perhutanan merupakan dua sector yang selama ini muncul sebagai dua sector yang saling bermasalah satu sama sama lain. Hal ini muncul dikarenakan sifat dari dua sektor yang saling bertolak belakang teruta kaitannya dengan isu lingkungan. Di satu sisi sektor pertambangan dan energi merupakan salah satu sektor pembangunan penting bagi Indonesia. Industri pertambangan sebagai bentuk kongkret sektor pertambangan menyumbang sekitar 11,2% dari nilai ekspor Indonesia dan memberikan kontribusi sekitar 2,8% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Industri pertambangan mempekerjakan sekitar 37.787 tenaga kerja orang Indonesia, suatu jumlah yang tidak sedikit. Di sisi lain sektor kehutanan “menguasai” lahan yang ada di Indonesia, paling tidak pada tahun 2009 luas daratan Indonesia adalah 190,31 juta ha, sementara luas tutupan hutannya adalah 88,17 juta ha atau sekitar 46,33 persen dari luas daratan Indonesia. Fakta yang ada potensi pertambangan ada di bawah lahan yang notabene dalam status kawasan lindung yang memiliki utama untuk perlindungan. Hal ini yang menjadikan konflik ketika pertambangan yang dilaksanakan di kawasan hutan lindung dimana pertambangan secara peraturan perundangan yang berlaku dimungkinkan untuk dilakukan dengan pertambangan tertutup. Untuk itu perlu dilakukan suatu kajian mengenai permasalahan yang muncuk di sector pertambangan dan kehutanan serta solusi dari permasalahan tersebut.
Read More…

Pembangunan Berkelanjutan, Kebijakan, Implementasi dan Tantangannya di Indonesia.

 

Latar Belakang

Indonesia telah menyatakan untuk melaksanakan pembangunan secara berkelanjutan. Salah satu bentuk komitmen itu telah muncul sebuah konsep pembangunan berkelanjutan dalam Agenda 21 yang memuat rencana aksi dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Implementasi pembangunan berkelanjutan menuntut setiap negara baik itu maju, berkembang maupun miskin mempunyai tanggung jawab moral yag sifatnya sukarela bagi tiap-tiap negara untuk melaksanakannya. Indonesia sebagai Negara berkembang telah memutuskan berkomitmen untuk itu. Namun demikian kebijakan maupun implementasi pembangunan di Indonesia belum sepenuhnya mengarah kesana. Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang menyebabkan Indonesia belum mampu untuk menuju pembangunan berkelanjutan secar atuh baik itu dari segi kebijakan maupun implementasinya? Apakah implementasi dari konsep pembanguna berkelanjutan sudah cukup adil bagi perkembangan masing-masing negara?

Read More…

Posted by: Muhammad Anshor | February 2, 2012

Masalah Lingkungan dan Pengetahuan Manusia

Masalah Lingkungan dan Pengetahuan Manusia

Apakah masalah lingkungan yang semakin kritis dewasa ini disebabkan oleh pengetahuan yang dimiliki manusia (modern) yang terlalu banyak atau terlalu sedikit? Atau, terlalu banyak untuk suatu hal tetapi terlalu sedikit untuk hal lain?

Read More…

Konsep Perencanaan Lanskap Dalam Penataan Zonasi Taman Nasional Dengan Pendekatan Flagship Species

 

Pendahuluan

Rencana lanskap Taman Nasional diwujudkan dalam bentuk penataan zonasi yaitu pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat. Perencanaan kawasan konservasi sebagai lanskap harus memulainya dengan dasar tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan, kemudian menetapkan kriteria bagi masing-masing zona. Zonasi ditentukan dengan menggunakan informasi terbaik yang tersedia serta keputusan ahli yang melibatkan tim perencanaan yang multidisiplin. Dalam konteks Taman Nasional tujuan perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati menjadi prioritas utama dalam pengelolaannya sehingga pola penataan ruang dalam zonasi Taman Nasional lebih dekat pada pola perlindungan dan pengawetan suatu tumbuhan atau satwa di dalam lanskap. Dalam kenyataannya melindungi seluruh potensi keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan taman nasional merupakan suatu hal yang sulit dilakukan. Adanya keterbatasan informasi keanekaragaman hayati yang ada dan kendala keterbatasan sumber daya manusia menyebabkan perlunya prioritas dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Hal ini yang kemudian menjadi pertimbangan dalam kegiatan penataan zonasi taman nasional. Untuk itu perlu dilakukan suatu pendekatan dalam penataan zonasi, salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk menentukan kawasan prioritas perlindungan dan pengawetan keanekaragaman hayati sebagai arahan zonasi taman nasional adalah dengan menggunakan konsep Flagship Species. Dalam tulisan ini mencoba membahas penataan zonasi dengan pendekatan Flagship Species dalam rencanaan pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi sebagai sebuah lanskap.

Read More…

Posted by: Muhammad Anshor | February 1, 2012

Dampak Letusan Merapi Terhadap Psikologis Masyarakat Lereng Merapi

Dampak Letusan Merapi Terhadap Psikologis Masyarakat Lereng Merapi

Pendahuluan

Gunung Merapi merupakan bagian dari rangkaian 129 gunung berapi aktif dari ring of fire yang memanjang dari kepulauan Sumatra, Jawa, hingga Indonesia bagian timur. Gunung Merapi yang terletak di perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan ekosistem gunung yang unik. Ekosistem Gunung Merapi merupakan perpaduan dari ekosistem hutan hujan di Jawa bagian barat dan ekosistem savana di Jawa bagian timur.

Read More…

Categories