Posted by: Muhammad Anshor | February 1, 2012

Dampak Letusan Merapi Terhadap Psikologis Masyarakat Lereng Merapi

Dampak Letusan Merapi Terhadap Psikologis Masyarakat Lereng Merapi

Pendahuluan

Gunung Merapi merupakan bagian dari rangkaian 129 gunung berapi aktif dari ring of fire yang memanjang dari kepulauan Sumatra, Jawa, hingga Indonesia bagian timur. Gunung Merapi yang terletak di perbatasan antara Propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan ekosistem gunung yang unik. Ekosistem Gunung Merapi merupakan perpaduan dari ekosistem hutan hujan di Jawa bagian barat dan ekosistem savana di Jawa bagian timur.

Kawasan Gunung Merapi ditunjuk menjadi Taman Nasional pada tahun 2004 melalui Keputusan Menteri Kehutanan SK Nomor 134/Menhut-II/2004 tanggal 04 Mei 2004. Kawasan ini sebelumnya merupakan kawasan hutan yang terdiri dari hutan lindung, taman wisata alam dan cagar alam. Alih fungsi kawasan ini  didasari oleh pertimbangan sebagai berikut:

  1. Daerah tangkapan air utama yang memberikan pasokan air bersih bagi daerah pemukiman dan pengairan lahan-lahan pertanian di Propinsi DIY dan Jawa Tengah terutama daerah Magelang, Klaten, Boyolali, Sleman dan Kota Yogyakarta.
  2. Hutan Gunung Merapi merupakan hutan tropis pegunungan yang khas karena terletak pada gunung berapi yang masih aktif, sehingga terbentuk ekosistem yang khas pula. Ada kurang lebih 1000 jenis tumbuhan, termasuk anggrek langka Vanda tricolor. Satwa liar yang ada diantaranya adalah macan tutul, kijang, monyet ekor panjang, babi hutan serta 159 jenis burung, dengan 32 jenis diantaranya endemik, termasuk Elang Jawa yang langka. Potensi ini merupakan laboratorium alam yang sangat berguna bagi dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan.

Gunung Merapi yang masih alami cocok untuk wisata alam dan pendidikan, seperti kemah, tracking, outbond, pendakian dan lain-lain. Demikian pula dengan upacara tradisional Labuhan Merapi oleh Mbah Maridjan, Merti Bumi, dan Sedekah Gunung dapat sebagai wisata budaya yang menarik minat wisatawan.

Bulan Oktober 2010 Gunung Merapi aktif kembali, sehingga tanggal 25 Oktober 2010 status Merapi menjadi Awas. Tanggal 26 Oktober Merapi erupsi pertama kali dengan mengeluarkan awan panas (wedhus gembel) yang kemudian disusul letusan besar tanggal 5 November 2010. Kerugian yang diakibatkan bencana alam erupsi Gunung Merapi sangat besar. Ratusan jiwa melayang, ribuan rumah dan gedung rusak, ratusan ribu orang dipaksa meninggalkan rumah serta ribuan warga yang tinggal di lereng gunung yang masih bisa menyelamatkan diri serempak lari berhamburan menjauh dari tempat kejadian. Awan panas yang menyelimuti pemukiman warga rupanya membuat para warga kelagapan dan kebingungan mencari tempat untuk mengungsi. Ditambah lagi dengan himbauan dari kepala pemerinatah setempat yang memerintahkan warga untuk tidak berada di kawasan gunung yang masih rawan. Rumah dan harta benda sudah tidak bisa lagi diselamatkan, sanak saudarapun telah pergi meninggalakan mereka, sawah, ladang dan hewan-hewan ternak juga telah mati, musnah dan menimbulkan rasa kehilangan yang teramat sangat. Akhirnya para warga terpaksa mengungsi, dan berkumpul disatu tempat dengan orang-orang yang berasal dari berbagai macam tempat. Kelompok pengungsi yang tinggal bersama namun tidak memiliki ikatan antar satu individu dengan individu yang lainnya di dalam Psikologi Kelompok disebut sebagai kelompok non-identitas. Cenderung kurang intesnsif dalam berinteraksi, namun tetap dikatakan sebuah kelompok. Pasca erupsi Merapi juga masih menyimpan kondisi berbahaya yang ditimbulkan dari lahar dingin yang mengalir di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi yang masih terjadi hinggga saat ini dan masuh mengancah di kemudian hari. Menurut prediksi para ahli, bnajir lahar dingi akan tetap terjadi hingga volume lahar di hulu merapi luruh hingga habis diperkirakan hinggan tahun 2012 masih akan terjadi.

Dampak letusan merapi yang sangat luas salah satunya adalah dampak terhadap kondisi psikologis msyarakat di sekitar lereng merapi. Dalam makalah ini akan membahas dampak letusan merapi kaitannya dengan kondisi psikologis masarakat dari tinjaun teori stress lingkungan.

Teori Stres Lingkungan

Pengertian Stress

Menurut Veitch dan Arkkelin (1995) stres dicirikan sebagai proses yang membuka pikiran, sehingga akan bertemu dengan stressor, menjadi sadar akan bahaya, memobilisasi usaha untuk mengatasinya, mendorong untuk melawannya, serta yang membuat gagal atau berhasil dalam beradaptasi. Lingkungan sangat mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir manusia. Dalam kehidupannya, manusia selalu berinteraksi dan tergantung dengan lingkungan. Keadaan lingkungan yang kondusif akan membuat manusia nyaman dan selalu dalam keadaan homeostasis. Namun, lingkungan terkadang memberikan efek negatif pada manusia yang dapat menyebabkan stress.

Teori Stress Lingkungan (Environment Stress Theory)

Teori stress lingkungan pada dasarnya merupakan aplikasi teori stress dalam lingkungan. Berdasarkan model input proses output, maka ada 3 pendekatan dalam stress, yaitu : stress bagi stressor, stress sebagai respon atau reaksi, dan stress sebagai proses. Oleh karenanya, stress terdiri atas 3 komponen, yaitu stressor, proses, dan respon. Stressor merupakan sumber atau stimulus yang mengancam kesejahteraan seseorang, misalnya suara bising, panas atau kepadatan tinggi. Respon stress adalah reaksi yang melibatkan komponen emosional, pikiran, fisiologis dan perilaku. Proses merupakan proses transaksi antara stressor dengan kapasitas dengan kapasitas diri. Oleh karenanya, istilah stress tidak hanya merujuk pada sumber stress, respon terhadap sumber stress saja, tetapi keterikatan antara ketiganya. Artinya, ada transaksi antara sumber stress dengan kapasitas diri untuk menentukan reaksi stress. Jika sumber stress lebih besar daripada kapasitas diri maka stress negatif akan muncul, sebaiknya sumber tekanan sama dengan atau kurang sedikit dari kapasitas diri maka stress positif akan muncul. Dalam kaitannnya dengan stress lingkungan, ada transaksi antara karakteristik lingkungan dengan karakteristik individu yang menentukan apakah situasi yang menekan tersebut menimbulkan stress atau tidak. Udara panas bagi sebagian orang menurunkan kinerja, tetapi bagi orang lain yang terbiasa tinggal di daerah gurun, udara panas tidak menghambat kinerja.

Fisher (1984) melakukan sintesa pendekatan stress fisiologis dari Hans Selye dan pendekatan psikologi dari Lazarus, yang terlihat berikut ini : Ada tiga tahap stress dari Hans Selye, yaitu tahap reaksi tanda bahaya, resistensi, dan tahap kelelahan. Tahap reaksi tanda bahaya adalah tahap dimana tubuh secara otomatis menerima tanda bahaya yang disampaikan oleh indera. Tubuh siap menerima ancaman atau menghindar terlihat dari otot menegang, keringat keluar, sekresi adrenalin meningkat, jantung berdebar karena darah dipompa lebih kuat sehingga tekanan darah meningkat. Tahap resistensi atau proses stress. Proses stress tidak hanya bersifat otomatis hubungan antara stimulus respon, tetapi dalam proses disini telah muncul peran-peran kognisi. Model psikologis menekankan peran interpretasi dari stressor yaitu penilaian kognitif apakah stimulus tersebut mengancam atau membahayakan. Proses penilaian terdiri atas 2 yaitu : penilaian primer dan penilaian sekunder. Penilaian primer merupakan evaluasi situasi apakah sebagai situasi yang mengancam, membahayakan, ataukah menantang. Penilaian sekunder merupakan evaluasi terhadap sumber daya yang dimiliki, baik dalam arti fisik, psikis, sosial, maupun materi. Proses penilaian primer dan sekunder akan menentukan strategi coping (Fisher 1984) dapat diklasifikasikan dalam direct action (pencarian informasi, menarik diri, atau mencoba menghentikan stressor) atau bersifat palliatif yaitu menggunakan pendekatan psikologis (meditasi, menilai ulang situasi dsb). Jika respon coping ini tidak adekuat mengatasi stressor, padahal semua energi telah dikerahkan maka orang akan masuk pada fase ketiga yaitu tahap kelelahan. Tetapi, jika orang sukses, maka orang dikatakan mampu melakukan adaptasi. Dalam psroses adaptasi tersebut memang mengeluarkan biaya dan sekaligus memetik manfaat.

Macam-Macam Sumber Stress Lingkungan

  1. Bencana Alam

Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba, merusak, berhenti, secara tiba-tiba dan membutuhkan usaha yang besar untuk menanggulanginya. Bencana alam meliputi hamper semua kejadian yang terjadi di alam semesta. Tidak semuanya diakibatkan oleh perilaku manusia, namun akibatnya dapat bertambah ataupun dikurangi dengan beberapa perilaku.

Definisi tentang bencana alam termasuk seluruh keadaan cuaca yang ekstrim (panas, dingin, badai, tornado, dll). Gempa bumi, letusan gunung, tanah longsor, longsoran salju, juga termasuk bencana alam, tetapi dapat juga diakibatkan oleh pengolahan bumi oleh manusia.

Apabila komunitas rusak, kita menjadi tidak leluasa untuk betingkah laku dan dapat menimbulkan reaksi yang negative. Semakin banyaknya masalah yang dihadapi oleh individu, dapat mengakibatkan pikiran kita menjadi pendek. Apabila individu makin tertekan, maka semakin kehilangan kebebasan dan selalu menyendiri. Apabila bencana ini berlarut-larut, maka individu tersebut akan minder yang mengakibatkan stress. Bencana masal dapat membuat korban kehilangan semuanya, sehingga koban cenderung berperilaku apatis, susah diatur dan emosional.

  1. Bencana Teknologi

Untuk memperluas pengetahuan kita terhadap lingkungan dan adaptasi kita terhadap bahayanya telah dicapai melalui kemajuan teknologi. Peningkatan kualitas hidup, perpanjangan hidup, penguasaan terhadap penyakit, dan sejenisnya itu berdasarkan pada jaringan teknologi yang telah kita ciptakan. Mesin-mesin, struktur dan hasil karya manusia yang lain yang kita terapkan ke lingkungan tidak secara parallel dijamin bisa membantu. Umumnya mesin menyelesaikan pekerjaan atas control manusia. Bagaimanapun juga, jaringan ini bisa saja gagal, dan bisa saja ada yang salah sebab itu, kita mengalami gangguan sebuah kota. Misalnya kebocoran bahan kimia beracun dan pembuangan sampah, kebocoran bendungan dan jembatan roboh.

Pembahasan

Dampak awal dari letusan merapi apaling tidak ada lima aspek, antara lain:

1. Aspek Kesehatan, dimana munculnya penyakit yang muncul, kehilangan anggota tubuh maupun keluarga akibat bencana merapi.

2. Aspek Psikologis, masalah selanjutnya dalam pengungsian adalah kondisi psikologis dari korban bencana. Sebagian besar pengungsi mengalami berbagai macam jenis tekanan psikologis akibat bencana seperti stess dengan beragam tingkatan, dari stress ringan sampai stress berat, tertekan di tempat pengungsian, bahkan banyak  pengungsi sudah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa, insomnia tingkat ringan sampai berat, tak bisa memahami realitas atau berperilaku kacau, merasa khawatir dengan masa depan, trauma berat, jenuh, dan sebagainya. Masalah-masalah psikologis yang dialami para pengungsi inilah yang mengakibatkan banyak kerugian, dari terhambatnya peluang untuk mengembangkan diri dan ketidakpastian masa depan.

3. Aspek Sarana Prasarana dan Lingkungan, bencana ini juga berdampak buruk pada sarana prasarana masyarakat pasca Gunung meletus di Yogyakarta, seperti  rusak dan hilangnya lingkungan pemukiman masyarakat baik itu perumahan maupun sarana prasarana pendukungnya.

4. Aspek Pendidikan, meletusnya gunung Merapi juga berdampak pada pendidikan anak-anak. Sekolah mereka terbengkalai, seketika proses belajar terhenti karena sarana sekolah yang telah rata tanah. Namun, pemerintah tetap mencoba memperbaiki keadaan tersebut dengan mendirikan sekolah gabungan, dengan memanfaatkan gedung-gedung yang masih bisa dipakai. Itupun tidak sepenuhnya berjalan dengan efektif, karena anak-anak pengungsi yang belum bisa beradaptasi dengan suasana sekolah yang mereka tumpangi itu. Bahkan, belum cukup kenal teman baru dan adaptasi saja mereka sudah harus dipindahkan lagi ke ‘sekolah’ lain. Nasib sejumlah murid terombang-ambing. Kondisi inilah yang membuat anak-anak bingung dan terpaksa menuruti aturan pemerintah.

5. Aspek Ekonomi, masalah utama yang dialami para korban bencana dilihat dari aspek ekonomi adalah kehilangan mata pencaharian. Dan menurut seorang pengamat ekonom, para pengungsi letusan Gunung Merapi membutuhkan pengalihan lapangan pekerjaan karena lahan pertanian tidak dapat langsung digunakan kembali, seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).dalah munculnya masyarakat yang mengusngi dan tinggal di barak-barak pengungsian dan tempat tinggal sementara.

Stres lingkungan yang ditimbulkan kasus di atas merupakan stres lingkungan karena bencana alam berupa letusan gunung merapi yang melanda masyarakat lereng merapi. Menurut teori stres lingkungan, ada dua elemen dasar yang menyebabkan manusia bertingkah laku terhadap lingkungannya. Elemen pertama adalah stressor dan elemen kedua adalah stress itu sendiri. Stressor adalah elemen lingkungan (stimuli) yang merangsang individu, jenis-jenis stresor yang timbul misalnya: (1) stresor sosial seperti masalah pekerjaan, masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah keluarga, hubungan interpersonal, perkembangan, penyakit fisik, masalah kekerasan rumah tangga (2) stresor psikis seperti perasaan rendah diri, frustasi., malu, merasa berdosa. (3) stresor fisis (panas, dingin, bising, bau yang menyengat, banjir) dan lain-lain.. Stres (ketegangan, tekanan jiwa) adalah hubungan antara stressor dengan reaksi yang ditimbulkan dalam diri individu.

Berbagai macam dampak yang timbul menyebabkan tekanan terhadap psikologis masyarakat semakin berat, hal ini memunculkan stress yang diakibatkan dari bencana alam yang terjadi yaitu letusan gunung merapi. Munculnya stress ini dikarenakan adanya perubahan lingkungan akibat dampak letusan disebut stressor yang dianggap atau dinilai mengancam sehingga masyarakat dihadapkan tuntutan dari lingkungan yang nenuntut / memintanya untuk berubah. Namun tingkat stress masing individu berbeda terhadap dampak bencana ini, tergantung pada penilaian individu terhadap situasi/ kondisi yang dihadapi. Dan lama tidaknya stress pun tergantung dari penilaian dan sikap masing-masing individu terhadap bencana ini.

Kesimpulan

Letusan merapi memberikan dampak perubahan lingkungan yang nyata bagi masayarakat di lereng gunung merapi, hal ini memberikan tekanan psikologis sehingga muncul stress yang diakibatkan oleh bencana alam. Dampak letusan merapi merupan stressor yang menjadikan masyarakat memiliki respon yang berbeda tergantung penilaian terhadap kondisi lingkungan yang berubah. Pada akhirnya lama tidaknya stres lingkungan dari bencana letusan merapi tegantung dari penilaian masing-masing individu. Sebagai solusi adalah segera melakukan restorasi kawasan lereng merapi serta rehabilitasi dan relokasi masyarakat lereng agar segera mungkin bisa menemukan kembali lingkungan yang kondusif untuk mengurangi tingkat stress yang mereka alami.

Daftar Pustaka

Andini, Adit. 2012. Peran Stres dalam Memahami Hubungan Manusia dengan Lingkungan diakses http://aditindi.blogspot.com/2011/04/peran-stres-dalam-memahami-hubungan.html

Anonim. 2011. Penanganan Dan Relokasi Korban Bencana Gunung Merapi Yogyakarta.

Diakses dari http://devianggraeni90.wordpress.com/2011/01/12/penanganan-dan-relokasi-korban-bencana-gunung-merapi-yogyakarta-2/

TNGM. 2011. Laporan Penataan Zonasi TNGM Setelah Erupsi 2010. Yogyakarta: TNGM Kementerian Kehutanan RI.


Responses

  1. terimakasih artikel ini sangat membantu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: